Danamon Bukukan Pertumbuhan Laba Bersih Sebesar 18 Persen di Semester I 2017 | Bali Uri.co.id

Bali Uri.co.id

Menu

Danamon Bukukan Pertumbuhan Laba Bersih Sebesar 18 Persen di Semester I 2017

Danamon Bukukan Pertumbuhan Laba Bersih Sebesar 18 Persen di Semester I 2017
Foto Danamon Bukukan Pertumbuhan Laba Bersih Sebesar 18 Persen di Semester I 2017

URI.co.id, DENPASAR – Peningkatan kualitas aset PT Bank Danamon Indonesia, Tbk tercermin dari penurunan total kredit bermasalah (NPL) sebesar 4 persen dibandingkan setahun sebelumnya.

Danamon terus meningkatkan kualitas aset melalui penerapan prosedur pengelolaan risiko yang pruden, serta proses collection dan credit recovery yang disiplin.

“Total kredit bermasalah kami turun 4 persen menjadi Rp 3,8 triliun. Pada saat NPL industri naik 6 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Biaya kredit juga menurun 23 persen, menjadi Rp 1,7 triliun. Kemudian rasio kredit bermasalah (gross NPL) Danamon tercatat pada 3,2 persen. Ini masih di bawah batas yang ditentukan regulator yaitu 5 persen,” sebut I Gusti Agus Indrawan, Regional Head PT Bank Danamon Bali-Nusa Tenggara, saat temu media di Sector Bar, Sanur, Denpasar, Jumat (11/8/2017) kemarin.

Pihaknya pun terus meningkatkan kualitas produk dan layanan Danamon untuk melayani nasabah lebih baik. Penurunan NPL 4 persen secara nasional ini, disebabkan banyak hal.

“NPL turun karena kualitas kredit yang membaik, kualitas aset membaik, dan bagaimana kami menjaga serta memberikan kredit secara pruden. Collection juga berjalan dengan benar, bagi yang menunggak secepatnya kami selesaikan,” jelasnya.

Mengingat terkadang debitur, kata dia, dimungkinkan sibuk, atau lupa membayar kredit sehingga SDM Danamon mendatangi untuk segera melakukan pembayaran cicilannya.

“Ya target kami sampai akhir tahun, NPL bisa serendah-rendahnya, karena ini sudah di atas target. Tapi kami maunya lebih turun lagi. Harapannya Bali bisa di bawah 3,2 persen,” ujarnya. Sementara NPL Bali masih berada di bawah NPL nasional.

Kredit penyumbang NPL pun tersebar, baik itu datang dari industri otomotif, dan sebagainya termasuk perdagangan. Kaitan dengan pelemahan ekonomi, juga berdampak tetapi tidak serta merta membuat suatu perusahaan menyumbangkan NPL.

“Sebab setiap perusahaan yang ada pasti sudah memperhitungkan plan A dan B, serta dampaknya pasti ada. Jadi belum tentu,” katanya.

Sementara itu, portofolio kredit terbesar masih di sektor perdagangan yang mendominasi. Ia menjelaskan, kualitas kredit membaik, dengan memperbanyak debitur yang berkualitas, sehingga bisa memperbaiki kualitas kredit. “Kami melihat penanganannya dari proses awal sebelum mencairkan kredit,” imbuhnya.

Selain itu, ia tetap menjaga hubungan baik dengan konsumen, khususnya dalam penagihan kredit agar tidak macet.

Portofolio kredit Danamon terus bergeser menuju segmen non-mass market. Danamon membukukan pertumbuhan pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM), enterprise dan mortgage.

“Non-mass market itu maksudnya, dulu kan Danamon rodanya bergerak dari kredit baik itu Adira Finance dan kredit mikro. Nah melihat kondisi saat ini, kredit non-mass market adalah kredit mikro, sedangkan kondisi mikro saat ini susah. Nah kami tidak bisa bertahan terus untuk mengejar kredit di mikro karena kredit mikro besar, persaingan juga banyak. Nah untuk mikro, kami lebih menekankan untuk menjaga kualitas kredit tersebut,” jelasnya.

Baik itu mengejar collection, debitur yang macet sehingga pihaknya fokus ke kredit UKM, enterprise, dan mortgage yang berpotensi sekarang digarap.

Kredit pada segmen UKM tumbuh 9 persen menjadi Rp 26,7 triliun. Portofolio Enterprise, terdiri dari perbankan korporasi, komersial, dan institusi keuangan, tumbuh 6 persen menjadi Rp 37,1 triliun.

Sementara kredit mortgage tumbuh 25 persen menjadi Rp 4,9 triliun. Di luar perbankan mikro, total portofolio kredit dan trade finance tumbuh 4 persen menjadi Rp 119,8 triliun pada akhir semester I 2017 dibandingkan tahun sebelumnya.

“Bahkan di tengah lemahnya industri otomotif, pembiayaan baru Adira Finance tumbuh 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Didorong oleh segmen kendaraan roda dua dan empat. Pembayaran Adira Finance pada akhir semester I 2017 sebesar Rp 44,6 triliun,” imbuhnya.

Sedangkan kredit segmen mikro melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP) turun 32 persen menjadi Rp 8,5 triliun karena kompetisi dari permintaan yang menurun. (uri/ebecca/iallagan/RS)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Bali Uri.co.id