Sienny Karmana Tak Sadarkan Diri Usai Hakim Vonis Penjara Arta Warmadewa | Bali Uri.co.id

Bali Uri.co.id

Menu

Sienny Karmana Tak Sadarkan Diri Usai Hakim Vonis Penjara Arta Warmadewa

Sienny Karmana Tak Sadarkan Diri Usai Hakim Vonis Penjara Arta Warmadewa
Foto Sienny Karmana Tak Sadarkan Diri Usai Hakim Vonis Penjara Arta Warmadewa

URI.co.id, DENPASAR – Sienny Karmana seketika ambruk tak sadarkan diri ketika mendengar suaminya, yakni R Gerard Arta Warmadewa dijatuhi hukuman dua tahun penjara oleh majelis hakim, dalam kasus pemalsuan dokumen, Kamis (7/9/2017) di Pengadilan Negeri (PN), Denpasar.

Tak pelak ruang sidang pun mendadak heboh.

Sejumlah pengunjung dan kerabat terdakwa panik melihat Sienny tak sadarkan diri.

Mereka pun langsung menggotong Sienny ke luar ruang sidang Setelah mendapat perawatan, ia pun sadar dan kembali menjenguk suaminya yang sudah ditempatkan di sel tahanan sementara PN Denpasar.

Ditemui usai sidang, penasihat hukum terdakwa yakni Edward Pangkahila mengatakan, istri terdakwa syok setelah mendengar hakim menjatuhkan hukuman dua tahun penjara kepada suaminya.

Pasalnya, melihat fakta persidangan, pihaknya dan istri terdakwa sangat yakin jika Gerard tidak bersalah karena perkara ini masuk ranah perdata.

“Kami sangat yakin kalau hakim akan memutus onslag (bukan pidana melainkan perdata). Tapi putusan mengatakan lain dan menyatakan terdakwa bersalah,” jelasnya kecewa.

Dengan putusan majelis hakim itu, pihaknya yang sudah berkoordinasi bersama terdakwa pun mengajukan banding.

Di sisi lain, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suhadi menyatakan menerima putusan meski jauh dari tuntutan sebelumnya yaitu 4 tahun penjara.

“Kami putuskan banding, karena kami menganggap perkara ini merupakan ranah perdata bukan pidana,” tegas Edward. 

Sementara dalam amar putusan, majelis pimpinan Made Pasek menyatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pemalsuan dokumen, sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 263 ayat (1) KUHP.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Gerard Arta Warmadewa dengan pidana penjara selama dua tahun,” tegas Hakim Ketua Made Pasek.

Edward menceritakan, perkara ini berawal dari kerjasama antara terdakwa Gerard dan rekannya, Slamet H (korban) pada 2013 lalu.

Dalam kerjasama ini juga berisi perjanjian jual beli tanah milik Slamet yang akan dibeli terdakwa.

Di atas tanah ini nantinya akan dipecah menjadi tiga (kavling) dan akan dibangun tiga buah rumah.

“Atas permintaan korban dibuatlah kwitansi Rp 2 miliar seolah-olah sudah terjadi jual beli antara keduanya,” ungkapnya.

Nantinya, Gerard akan membangun tiga unit rumah di atas lahan milik Slamet ini.

Setiap unit bangunan yang laku, sebagian uangnya akan digunakan untuk melunasi pembayaran tanah milik Slamet.

Awalnya satu unit rumah selesai dan laku terjual.

Terdakwa memberikan sebagian hasil penjualan kepada korban.

Masalah muncul saat pembangunan rumah kedua.

Pihak korban menguasai lahan tersebut dan membatalkan kerjasama.

“Korban juga langsung lapor penipuan ke Polda Bali,” Papar Edward.

Saat penyelidikan di kepolisian, ditemukanlah bukti baru yaitu kwitansi jual beli antara terdakwa dan korban.

Saat dikonfrontir, korban mengaku tidak pernah melakukan jual beli dan menyatakan tanda tangan di kwitansi tersebut palsu.

Akhirnya penyidik membuat laporan polisi baru yaitu pemalsuan tanda tangan hingga akhirnya Edward menjadi tersangka dan terdakwa.

“Padahal jelas kalau ide membuat kwitansi jual beli tersebut dari pihak korban dan korban juga yang tandatangan. Tapi di penyidik dia membantah,” ujar Edward

Pihaknya menambahkan, di persidangan juga terungkap fakta menarik dimana korban dan kuasa hukumnya menggunakan putusan palsu ke persidangan.

“Majelis hakim mengecek bukti yang diajukan dan ternyata palsu. Meski masuk dalam pertimbangan dalam putusan, namun hakim tetap menyatakan terdakwa bersalah,” beber Edward. (uri/hon/apitri/JS)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Bali Uri.co.id