Perubahan Bentuk Gunung Agung Mulai Terdeteksi, Warga Tetap Bolak-Balik ke Zona Bahaya | Bali Uri.co.id

Bali Uri.co.id

Menu

Perubahan Bentuk Gunung Agung Mulai Terdeteksi, Warga Tetap Bolak-Balik ke Zona Bahaya

Perubahan Bentuk Gunung Agung Mulai Terdeteksi, Warga Tetap Bolak-Balik ke Zona Bahaya
Foto Perubahan Bentuk Gunung Agung Mulai Terdeteksi, Warga Tetap Bolak-Balik ke Zona Bahaya

URI.co.id, AMLAPURA – Ternyata masih ada warga yang masih mondar-mandir memasuki wilayah kawasan Gunung Agung yang dinyatakan sebagai kawasan rawan bencana pada Rabu (27/9/2017).

Karena itulah sejumlah petugas kepolisian melakukan patroli untuk menghimbau agar warga mau mengungsi, karena tempat tinggal mereka berada di zona perkiraan bahaya.

PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) telah menetapkan bahwa kawasan perkiraan bahaya yang harus dikosongkan dari aktivitas warga adalah di dalam radius hingga 9 Km dari puncak Gunung Agung, ditambah perluasan sektoral sejauh 12 Km ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya.

“Ada warga yang bolak balik dari tempat pengungsian ke rumah mereka untuk memberi makan ternak. Tapi ada pula yang hanya bisa merenung di pengungsian, memikirkan ternak mereka yang belum dievakuasi,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat meninjau Pos Pemantau Gunung Agung di Rendang, Karangasem, Rabu (27/9/2017).

Bendesa Adat Besakih, Jero Mangku Widiarto mengakui ada warganya yang memang pulang-pergi dari lokasi pengungsian ke rumah pribadi.

Mereka kebanyakan ingin melihat kondisi ternak sapi atau ayamnya.

Namun, ada juga yang sekadar ingin melihat kondisi Gunung Agung dari dekat.

“Tapi karena statusnya awas, warga kami pasti mematuhi aturan yang ada,” jelas Widiarto ketika ditemui di Pos Pantau Gunung Agung di Rendang kemarin.

Ia berharap warganya selalu mawas diri agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.Di Desa Besakih, lanjut Widiarto, terdapat 8.000 lebih warga yang terdiri dari 11 Banjar.

“Walaupun ada yang pergi ke kampung-kampung asalnya itu, tapi malam hari diminta agar balik ke tempat pengungsian,” kata Widiarto.

Warga yang masih bolak-balik dari pengungsian ke rumah mereka, karena dari Besakih terlihat bahwa Gunung Agung belum menampakkan semburan abu dan lava, sehingga mereka masih berani pergi untuk menengok ternak mereka.

“Tapi itu kan hasil pandangan mata. Kenyataannya, sesuai hasil pantauan resmi, Gunung Agung masih berstatus awas. Karena itu, sangat kami imbau agar warga masyarakat di Besakih mawas diri untuk tidak ambil risiko,” terang Widiarto.

Kemarin, sejumlah umat yang bermukim sekitar 10 Km dari Gunung Agung menggelar persembahyangan dalam upacara Meayu-Ayu di Pura Penataran Agung Desa Pemuteran, Karangasem, Bali.

Warga di kawasan rawan bencana itu menggelar persembahyangan bersama untuk memohon agar terhindar dari bahaya, menyusul peningkatan aktivitas Gunung Agung.

Sebagian besar dari mereka telah mengungsi ke daerah Pengotan Bangli, karena warga merasa tempat tersebut aman.

Usai melakukan persembahyangan, mereka kembali ke tempat pengungsian.

“Upacara ini  berkaitan dengan pikebeh jagat mengayu ayu. Biasanya kami laksanakan selama tiga hari. Namun karena status Gunung Agung di level Awas, kami laksanakan sehari saja. Umat memohon agar diberikan keselamatan oleh Tuhan. Sewaktu Gunung Agung meletus pada 1963 dulu, pura penataran ini adalah tempat kami berlindung dari material letusan. Dulu belum secanggih sekarang informasinya. Semoga kali ini baik baik saja,” kata penglingsir pura, Jro Mangku Pasek yang merupakan pengempon dari Pura Penataran Agung Desa Pemuteran.

Di sekitar Pemuteran juga terlihat beberapa warga masih melakukan aktivitas berkebun sawi dan juga beternak.

Terlihat, misalnya, seorang peternak menaikkan sapinya untuk diungsikan ke Bangli.

Namun ada juga yang tetap bertahan di rumahnya yang berada di radius 9 Km dari kawah Gunung Agung.

Pada Rabu (27/9/2017) malam, petugas kepolisian berpatroli dan memberi himbauan kepada warga yang belum mengungsi dari kawasan rawan bencana di wilayah Besakih untuk segera mengungsi.

Patroli tersebut juga dimaksudkan untuk mencegah tindak kriminalitas dengan target rumah kosong yang ditinggal mengungsi.

Deformasi

Sementara itu, dari hasil pantauan petugas PVMBG kemarin, Gunung Agung terdeksi mengalami perubahan bentuk atau deformasi.

Informasi itu disampaikan oleh Kabid Mitigasi Gunungapi PVMBG Kementerian ESDM, I Gede Suantika, usai melakukan pemantauan Gunung Agung dengan menggunakan Electronic Distance Meter (EDM) di Pos Pengamatan Gunung Agung, Desa Rendang.

Dikatakan Suantika, dari hasil pemantauan menggunakan EDM, perubahan bentuk Gunung Agung mulai terdeteksi kendati perubahannya masih dalam ukuran sangat kecil.

“Sudah terpantau ada deformasi tubuh Gunung Agung. Namun, perubahan tersebut masih dalam ukuran mikron meter,” terang Suantika.

Mendeteksi perubahan bentuk gunung yang terpantau melalui EDM hanyalah salah-satu cara untuk mengetahui potensi terjadinya letusan.

Semakin tinggi deformasi, kemungkinan terjadinya letusan semakin besar.

“Saat ini data menunjukkan jarak reflektor ke EDM kian mendekat. Hal itu menunjukkan tubuh gunung terjadi pembesaran,” ucap Suantika.

Lebih jauh Suantika menjelaskan, pengukuran deformasi Gunung Agung dilakukan dengan meletakkan satu unit EDM di Pos Pengamatan Gunung Agung dan sebuah cermin reflektor yang letaknya berkisar 1 Km dari alat EDM.

Kemudian dilakukan penembakan sinar laser dari EDM ke reflektor.

Suantika mengatakan, data akan lebih akurat apabila reflektor ditempatkan lebih dekat dengan puncak gunung.

Namun, karena terkendala lebatnya vegetasi, pemasangan reflektor di dekat puncak Gunung Agung sulit dilakukan.

Walaupun mengalami kendala, reflektor yang dipasang di lereng gunung sudah cukup membantu pemantauan.

“Kalau kita lihat, bila di lereng ada perubahan kecil, maka semakin mendekati puncak perubahan semakin besar,” jelas Suantika.

Suantika juga menjelaskan, meskipun PVMBG telah menetapkan peta kawasan rawan bencana Gunung Agung, namun tidak menutup kemungkinan aliran awan panas menyebar di luar titik-titik yang telah ditetapkan.

“Bisa saja ada kemungkinan perubahan dari peta. Nanti kalau meletusnya menimbulkan lubang yang lebih besar, bisa kemana-mana (awan panasnya),” ujar

Dalam peta kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Agung terbagi KRB I, II, dan III. Penetapan zona-zona perkiraan bahaya tersebut, menurut Suantika, mengacu pada sejarah letusan Gunung Agung tahun 1963.

Selain itu, penetapan KRB juga didasarkan pada hasil analisis terhadap material-material dalam Gunung Agung. (uri/utama/priyani/YA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Bali Uri.co.id